Ruang Lingkup Public Relations



Ruang Lingkup Public Relations
Oleh
Muhammad Dzulfiqar Wiraputra


Dalam kutipan buku Morissan (2008:13) pembahasan mengenai ruang lingkup public relations memberikan pandangan kepada kita, bahwa pekerjaan public relations saat ini sudah terspesialisasi. Setiap organisasi atau perusahaan tidak bisa dipisahkan dengan khalayaknya. Khalayak public relations dapat dibagi menjadi khalayak internal (internal relations), yaitu mereka yang terlibat dalam perkerjaan internal organisasi, serta khalayak eksternal (eksternal relations), yaitu khalayak yang berada di luar organisasi misalnya masyarakat sekitar, konsumen, pemerhati, lingkungan, investor, dan lain sebagainya.
Organisasi atau perusahaan pasti selalu berhubungan dengan khalayaknya. Namun demikian, dewasa ini praktisi public relations sudah harus memfokuskan pekerjaannya pada khalayak tertentu saja, ini berarti tidak semua khalayak harus dilayani. Saat ini, public relations sudah harus memilih unsur atau segmen masyarakat tertentu sebagai khalayaknya yang sengaja dipilih untuk kebih mengefektifkan penerimaan pesan-pesan.
Apa saja ruang lingkup public relations itu? Jawaban tehadap pertanyaan ini berbeda-beda dari masa ke masa. Pada awal perkembangnnya, ruang lingkup public relations hanya sebatas mengenai kegiatan yang berhubungan dengan media massa. Pada awal perkembangannya, ruang lingkup public relations hanya sebatas mengenai kegiatan yang berhubungan dengan media massa. Selain itu, awalnya ruang lingkup humas hanya berkisar pada kegiatan publisitas atau propaganda sehingga orang cenderung memahami public relations sama dengan propaganda dan publisitas.
Menurut Cutlip-Center-Broom di dalam buku Effective Public Relations yang dikutip oleh Morissan, M.A. (2008: 13) menjelaskan bahwa ruang lingkup public relations mencakup tujuh bidang pekerjaan. Sebagaimana dikemukakan: “ The contemporary meaning and practice of public relations includes all of the following activities and specialties (publicity, advertising, press agentry, public affairs, issues management, lobbying and investor relations)”. Dengan demikian, menurut Cutlip dan rekan, perkembangan public relations mencakup seluruh kegiatan tersebut yaitu: publisitas, iklan, press agentry, public affairs, manajemen isu, lobi, dan hubungan investor.
Wahidin Saputra dan Rulli Nasrullah di dalam bukunya yang berjudul “Public Relations 2.0 Teori dan Praktik Public Relations di Era Cyber” ( 2011: 54-59) membagi ruang lingkup public relations berdasarkan jenis organisasi yang pada garis besarnya adalah humas pemerintah, humas perusahaan , dan humas internasional. (1) Humas (PR) Pemerintah, Lembaga-lembaga pemerintah pusat sampai tingkat daerah dilengkapi dengan bagian humas untuk mengelola informasi dan opini public. Informasi mengenai kebijaksanaan pemerintah disebarkan seluas-luasnya, dan opini public dikaji dan diteliti seefektif-efektifnya untuk keperluan pengambilan keputusan dan penentuan kebijaksanaan berikutnya.  Wahidin Saputra dan Rulli Nasrullah dalam buku Public Relations 2.0 Teori dan Praktik Public Relations di Era Cyber” ( 2011: 54-59)  mengutip Sam Black dalam bukunya, “Practical Public Relations” mengklarifikasikan humas menjadi humas pemerintah pusat (center government) dan humas pemerintahan daerah (local government).  (2) Humas (PR) Perusahaan, Perusahaan merupakan organisasi yang memiliki kekhasan dalam sifat, fungsi dan tujuannya maka humas perusahaan mempunyai kekhasan pula, meskipun dalam aspek-aspek tertentu terdapat persamaan dengan jenis-jenis humas lainnya. Di dalam Humas (PR) Perusahaan sendiri diklarifikasikan menjadi beberapa bagian yakni, Hubungan dengan karyawan oleh humas (PR), Hubungan dengan pemegang saham (stakeholder relationship), Hubungan dengan pelanggan (customer relationship), Hubungan dengan komunitas khalayak sekitar (community relations), Hubungan dengan pemerintah (government relations) dan Hubungan dengan pers (pers relations). (3) Humas (PR) Internasional, Wahidin Saputra dan Rulli Nasrullah di dalam bukunya yang berjudul “Public Relations 2.0 Teori dan Praktik Public Relations di Era Cyber” ( 2011: 59) mengutip pernyataan John W. Hill, seorang Amerika yang dianggap pelopor dalam mengembangkan humas internasional, mengatakan bahwa humas internasional akan berkembang pesat apabila suasananya didukung oleh tiga unsur dominan, yakni : Pertama, Pemerintah yang mapan dan demokratis. Kedua, Sistem ekonomi yang memungkinkan dikembangkan perusahaan pribadi dan digalakannya persaingan disegala lapangan yang menuntut kerja keras. Ketiga, Media yang besar dan merdeka, yang memperoleh pengawasan pemerintah secara minimal.  





Daftar Pustaka

Cutlip, Scott M. Allen H, Center. Broom, Glen M. 2005.  Effective Public Relations. Edisi 8. Jakarta: PT Indeks Kelompok Gramedia
Morrison. (2010). Hospitality and Travel Marketing, Publishing as Delmar
Saputra, Wahidin & Rulli Nasrullah. 2011. Public Relations 2.0 : Teori dan  Praktik Public Relations di Era Cyber. Gramata Publishing, Depok.



Komentar

Postingan Populer